SEKILAS PULAU MIANGAS, BERANDA UTARA INDONESIA


Pulau Miangas jauh terpisah dari Kepulauan Indonesia, suatu pulau perbatasan….
Demikianlah sepenggal lirik lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak Pulau Miangas. Sepenggal lirik yang menggambarkan kondisi pulau tersebut. Pulau Miangas adalah beranda terdepan Indonesia di utara yang berbatasan dengan Republik Filipina. Secara administrasi pemerintahan pulau ini masuk dalam Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Pulau ini berjarak 220 mil laut dari Manado, sedangkan jarak ke Filipina hanya 48 mil laut. Untuk mencapai pulau ini dari Manado, kita dapat menggunakan kapal perintis selama kurang lebih empat hari pelayaran atau menggunakan pesawat udara dengan waktu kurang lebih 90 menit (hanya beroperasi pada hari Minggu).
            Pulau ini memiliki luas 3,15 km2 degan panjang pantai sekitar 6 kilometer. Pantai bagian utara Miangas masih alami dan sedangkan bagian selatannya sudah tidak alami lagi karena telah dibangun tanggul penahan abrasi.  Adapun pulau ini memiliki kontur yang relatif datar, kecuali di sisi timur laut terdapat sebuah gunung yang oleh masyarakat setempat disebut Gunung Keramat. Di gunung tersebut terdapat empat meriam yang merupakan peninggalan Portugis. Gunung ini juga menjadi benteng pertahanan terakhir masyarakat Miangas ketika menghadapi penjajah. Di gunung ini dibangun pula sebuah mercusuar dengan tulisan NKRI sebagai sebuah pernyataan kedaulatan Indonesia di pulau ini.
            Penduduk pulau ini adalah suku Talaud dan juga memiliki sejarah kawin mawin dengan penduduk Filipina. Masyarakat mengakui dua pemimpin adat yang disebut Ratumbanua dan Inanguwanua yang lebih sering disebut sebagai Mangkubumi I dan Mangkubumi II. Sedangkan dari sisi administrasi pemerintahan pulau ini masuk dalam administrasi Kecamatan Khusus Miangas. Kecamatan ini disebut khusus karena hanya terdiri dari satu desa yakni desa Miangas yang dibagi dalam tiga dusun. Namun dalam keseharian, masyarakat Miangas lebih akrab dalam pembagian berdasarkan kolom pelayanan Gereja yang terdiri dari sembilan kolom dan kolom kerja (gabungan dari kolom pelayanan) sebanyak empat kolom. Hal ini wajar terjadi karena mayoritas penduduk Miangas memeluk agama Kristen Protestan.
            Dari segi fasilitas, bagi saya, pulau ini sudah dalam taraf ‘mewah’ untuk ukuran sebuah desa. Listrik menyala 24 jam. Siaran televisi dan radio dapat diakses dengan lancar (meskipun siaran televisi masih menggunakan parabola).  Di bidang komuniksi juga tidak masalah karena di pulau ini sudah ada jaringan 4G (namun uniknya tidak ada jaringan 3G) dan jaringan WiFi dapat diakses secara gratis di beberapa titik. Di pulau ini juga telah dibangun bandara untuk melayani transportasi udara sekali seminggu. Sementara ini, sedang pula berlangsung pembangunan jalan lingkar pulau dan pembangunan dermaga kedua sehingga katika selesai dibangun Miangas akan memiliki dua dermaga kapal.
Potret Kehidupan
            Mayoritas penduduk Miangas adalah adalah nelayan sekaligus petani. Kopra dan cengkih adalah komoditas pertanian pulau ini. Sedangkan dari sektor kelautan adalah berbagai jenis ikan, kepiting, gurita, dan komoditas laut lainnya. Hasil bumi masyarakat Miangas dijual ke luar pulau melalui kapal laut yang datang tiga kali seminggu. Di pulau ini tidak ada pasar. Hanya ada kios-kios rumahan yang menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga yang cukup tinggi. Harga akan menjadi semakin tinggi lagi ketika persediaan menjadi langka. Karena persediaan hanya dapat dipasok dari kapal yang datang tiga kali dalam seminggu oleh kapal yang berbeda. Namun tidak ada jaminan kapal tiba sesuai jadwal yang ada karena pelayaran sangat dipengaruhi oleh cuaca, gelombang laut, dan kondisi kapal itu sendiri.
            Di bidang pendidikan telah ada sekolah berbagai tingkat, dari PAUD sampai SMK (hanya saja tidak ada SMA). Sedangkan, di bidang kesehatan, di pulau ini ada dua puskesmas dan satu klinik pelabuhan. Masalah utama di bidang pendidikan adalah tenaga pengajar yang masih minim dan sarana belajar mengajar seperti buku-buku dan komputer yang juga minim. Masalah lain adalah tidak adanya SMA di pulau ini, meskipun ada SMK, namun ada beberapa anak Miangas yang kemudian bersekolah di pulau lain karena  merasa ingin mendalami ilmu-ilmu lain, berhubung SMK di pulau ini hanya membuka jurusan kelautan. Sedangkan di bidang kesehatan, masalahnya adalah di tenaga kesehatan yang juga minim.
Dari bidang agama, masyarakat pulau ini hampir semua menganut agama Kristen Protestan. Ada dua gereja di pulau ini, sebuah gereja berdiri megah di posisi yang paling strategis serta sebuah gereja yang lebih kecil. Umat Islam juga ada di pulau ini yang umumnya adalah para  anggota TNI/Polri dan pegawai yang berasal dari luar dan sedang bertugas di pulau ini. Sebagaimana kita semua ketahui, hari Minggu adalah hari beribadah bagi umat Kristiani, maka kegiatan-kegiatan ‘duniawi’ pada hari itu harus ditinggalkan, seperti berkebun dan melaut. Selain ibadah hari Minggu, setiap hari selalu juga ada ibadah, seperti ibadah kaum muda, ibadah keluarga, syukuran ulang tahun dan sebagainya. Ini semua menimbulkan kesan bahwa masyarakat Miangas sangat religius, tetapi kenyataanya tidak sepenuhnya demikian. Masih saja ada banyak masyarakat yang tidak beribadah pada waktu-waktu ibadah. Namun, dapat saja mereka memang memiliki pemahaman tersendiri mengenai hal tersebut yang tidak saya didalami lebih lanjut.
            Masyarakat Miangas juga memilik tradisi yang bernama manam’mi. Manam’mi adalah tradisi menangkap ikan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat pulau. Sebuah pantai yang bernama Wolo adalah saksi bisu tradisi ini yang dihelat setiap pertengahan tahun. Sebelum kegiatan ini  dilakukan, Pantai Wolo dilarang untuk didatangi selama waktu tertentu. Hukum adat akan dikenakan bagi siapa saja yang melanggar aturan ini.
            Dari semua aspek sosial di atas, aspek yang sangat mewarnai kehidupan masyarakat Miangas adalah olahraga dan seni. Sepakbola, bola voli, dan sepak takraw adalah olahraga masyarakat Miangas, tidak peduli tua maupun muda. Setiap sore adalah jadwal rutin masyarakat Miangas untuk berolahraga. Dari sisi kesenian, masyarakat Miangas memiki tarian adat yang bernama empat wayer dan balenggang. Selain itu, setiap selesai acara syukuran selalu ada kegiatan yang disebut acara melantai, yaitu acara berjoget ria dengan musik yang keras. Namun, musik dengan suara yang keras bukan hanya ditemui pada saat acara melantai, hampir sepanjang hari masarakat miangas memutar musik dengan volume yang keras di rumah masing-masing, sehingga terdengar bersahut-sahutan dari rumah-rumah yang berbeda. Satu lagi kebiasaan masyarakat Miangas adalah bagate atau minum minuman keras. Hampir semua elemen masyarakat Miangas memiliki kebiasaan tersebut. Sehingga sangat sulit untuk menghapuskan kebiasaan ini.
Nasionalisme dari Perbatasan
            Tidak mudah untuk mengukur nasionalisme. Namun setidaknya ada beberapa hal yang dapat menunjukkan bahwa masyarakat Miangas memiliki nasionalisme yang tinggi. Hal itu adalah kemeriahan saat menyambut tanggal 17 Agustus. Tentu kemeriahan yang hanya ‘sederhana’. Dari awal bulan Agustus sampai menjelang 17 Agustus diadakan pertandingan/perlombaan olahraga dan seni antar-kolom pelayanan atau kolom kerja, dan antar siswa-siswa sekolah. Olahraga yang dipertandingkan adalah ssepakbola, bola voli, sepaktakraw dan tarik tambang. Sedangakan dalam bidang seni diperlombakan bintang vokalia (solo), vocal group, tari balenggang, tari empat wayer, dan joget dangdut. Hadiah bagi para juara juga cukup ‘memeriahkan’ kegiatan ini, yakni trofi dan uang pembinaan.
            Setiap malam menjelang 17 Agustus, selalu digelar acara Malam Taptu yakni pawai obor keliling perkampungan. Para peserta pawai ini adalah para pelajar, PNS, Pegawai Bandara, dan Anggota TNI/Polri. Para peserta membawa obor sambil menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Sedang masyarakat menyaksikan di rumah masing-masing. Sebuah pemandangan yang mungkin tidak banyak ditemukan di daerah-daerah lain di negeri ini.
            Pada tanggal 17 Agustus selalu diadakan upacara pengibaran bendera pada pagi hari dan penurunan bendera pada sore hari, yang diikuti oleh seluruh unsur masyarakat. Pada malam harinya diadakan acara tos kenegaraan. Tos kenegaraan menggambarkan ucapan syukur atas kemerdekaan yang dibingkai dalam kebersamaan. Di mana semua keluarga membawa makanan yang lezat dari rumah masing-masing ke pendopo lalu kemudian makan bersama. Dalam acara ini juga dipanjatkan doa syukur atas kemerdekaan serta sambutan-sambutan dari unsur pemerintahan. (TW)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai Kau,